Attention! You have stepped onto ♥ Izzati Nadia's online journal ♥ Welcome and thanks dear! With pleasure, you are invited to visit this page again and again in future│FollowDashboard
Subhanallah Alhamdulillah Allahuakbar Astaghfirullah

Bila kita ingat mati

Assalammualaikum. This is share from mysterious person for me😕

Bila ingat mati.
Taubat tak henti-henti.
Takut disoalnya nanti.
Amal ibadah aku jagai.

Bila ingat mati.
Air wuduk ku basahi.
Bersuci sentiasa diri ini.
Mudahan dosa diampuni.

Bila ingat mati.
Bersedia aku hari-hari
Melangkah setapak aku berhenti.
Takut jalan dimurkai.

Bila ingat mati.
Harta yang ada tiada erti.
Tinggallah aku menyendiri.
Munajat musyahadah ingat Ilahi.

Bila ingat mati
Dunia sudah cemburui.
Tiada lekat kasih lagi.
Semua fana tiada erti.

Bila ingat mati.
Akhlak budi aku hiasi.
Takut tersangkut pada duniawi.
Bersenda seloka aku jauhi.

Bila ingat mati.
Tujuh anggota diangkat pergi.
Tiada lagi empunya diri.
Hanya isbat ingat Ilahi.

Bila ingat mati.
Apa lagi nak ku cari.
Berjalan bertahun tiada henti.
Ingatkan Allah aku lebihi.

Bila ingat mati.
Rakan taulan aku jauhi.
Hidup aku menyendiri.
Takut lalai sesaat nanti.

Bila ingat mati.
Makanan jasad ku kurangi.
Santapan roh ku tambahi.
Agar penuh setiap inci.

Bila ingat mati.
Tidur malam ku kurangi.
Jaga malam aku hiasi.
Sentiasa munajat pada Illahi.

Bila ingat mati.
Siang malam ku tangisi.
Kenapa mereka tak fahami.
Hidup ini pasti akan mati.

Bila ingat mati.
Aku senang duk menyendiri.
Muhasabah tilik kebenaran hakiki.
Supaya aku diredhai.

Bila ingat mati.
Bergetar jiwa ingatkan janji.
Amanah janji harus ku tepati.
Kembali suci sesuci-suci.

Bila ingat mati.
Ingatkan Allah tiada henti.
Dosa yang lalu aku taubati.
Mudahan kasih Allah aku diredhai.

Bila ingat mati.
Carilah jalan mendekati.
Cara untuk mengingati.
Guru yang sentiasa memberkati.

Bila ingat mati.
Ingin ku nasihati
Ingatlah Allah jangan berhenti.
Semoga kita semua diberkati dan diredhai.

Bila ingat mati.
Selalu aku mengingati diri.
Kerana yang dihati ianya bersembunyi.
Menyepikan diri menunggu kembali.

Bila ingat mati.
Rahsia diri bersemadi dihati.
Antara manikam dan serkam ku simpan sendiri.
Akhirnya kelak bertemu AKU pasti.

Hajj Story

Assalamualaikum wbt.

Sa’eed was sitting at the waiting area at the Jeddah airport after having completed the rites of hajj, and next to him was another person who completed his hajj.

The man next to him said:

"I work as a contractor and Allah (swt) has blessed me with performing my tenth hajj.

Sa’eed told him:

" hajj mabroor, may Allah accept and forgive you your sins.

The man smiled and said: ameen.

Then he asked him: have you performed hajj before this time?

Sa’eed was hesitating to tell him, and then he said:

"by Allah, it’s a long story and I don’t want to hurt your head with my talk.

The man laughed and said:

"Please tell me, as you see we have nothing to do, we’re just waiting.

Sa’eed smile and said: yes, waiting is the start of my story.

"I’ve been waiting years so that I can go to hajj.

After working for thirty years as a physiotherapist in a private hospital, I was able to save enough money to go for hajj.

The same day I went to get my salary, I came across one of the mother’s who’s paralyzed son I treat.

I could see her face was worried and anxious.

She said:

"I leave you to Allah’s keeping, brother Sa’eed this is our last visit to this hospital.

I was surprised with her words and I thought she wasn’t happy with my treatment, and that she was considered moving her son to another hospital.

She told me:

"no brother Sa’eed, Allah bears witness that you were to my son like a father, and you helped him in his treatment when we had lost hope.

- Then she left very saddened.

The man next to him interrupted and said:

"that’s strange, if she was pleased with your treatment and her son was improving then why did she leave?

Sa’eed answered:

"that’s what I thought too, so I went to the administration to find out what happened.

They told me the boy’s father had lost his job and was unable to continue paying for his son’s treatment.

The man next to him said:

"there is no might and power except with Allah, poor them, how did you deal with it?

Sa’eed said:

- I went to the manager and pleaded with him to continue treating the boy on the hospital’s expense, but he sharply rejected and said, ‘this is a private institution not a charity’.

- I left his office sad and broken for this family.

- Then suddenly, I placed my hands in my pocked which had my money all prepared for hajj.

I stood in my place for a while, then I raised my head above and spoke to my Rabb:

O Allah, You know how I feel and You know there is nothing more beloved to me than to go to Your house and do hajj, and to visit Your messenger’s masjid.

You know I have been working all my life for this moment, but I prefer this poor lady and her son over myself, so don’t deprive me of Your favors.

- I went to the accounts desk and paid all I had for his treatment which covered the next six months.

- I begged the accountant to tell the lady that it’s from the hospital expense for special cases.

He was affected by this and there were tears in his eyes and said, ‘baarak Allah feek and people like you’

The man next to him then said:

"if you donated all of your money, then how did you go to hajj?

Sa’eed said:

" I went back to my home sad that day for having lost the opportunity of a lifetime for hajj.

But my heart was filled with happiness that I removed a distress from the lady and her son.

- I slept that night with a tear on my cheek.

-  I had a dream and I was making tawaf around the ka’aba and people were saying salam to me and they told me:

#‘hajj mabroor O Sa’eed, for you have performed hajj in the heavens before you performed hajj on earth’.

- I immediately woke up and felt an indescribable happiness.

- I praised Allah (swt) for everything and was pleased with His decree.

When I got up from my sleep, my phone rang and it was the hospital’s manager.

He told me the owner of the hospital wants to go to hajj this year and he won’t go without his personal therapist.

But his therapist’s wife is expecting and has reached her final days of pregnancy so he can’t leave her.

- Would you do me favor?

- Would you accompany him in his hajj?

I made sujood shukr to Allah (swt). And as you see, Allah (swt) granted me to go to His house without having to pay anything.

And all praise to Allah, the owner of the hospital insisted on giving me something for his accompaniment.

I told him the story of the lady and her son, and he demanded the boy be treated at the hospital from his own personal expense.

- And to place a donations box in the hospital for the treatment of needy patients.

- And on top of that, he gave the boy’s father a job at one of his companies.

He even returned the money I had initially spent for the boy’s treatment.

Have you seen great favors than the favors of my Rabb? Subhan Allah.

The man next to him hugged him and told him: by Allah I have never felt this kind of shyness as I’m feeling now.

I would perform hajj one year after another thinking I was doing something great, and that my place with Allah would be elevated as a result of it.

But now I understood that your hajj is equivalent to a thousand of mine.

I went to the house of Allah, but Allah invited you to His house.

May Allah accept your hajj.

Always think good about Allah (swt) and know He is able to do all things.

We ask Allah to forgive us and humble us in everything we do. Aameen.

Rabi’ah al-Adawiyah

Assalamualaikum wbt, 
Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang nama dan ajaran-ajarannya telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi. Rabi’ah adalah seorang sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyak diungkap oleh berbagai kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi. Rabi’ah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi). Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz.
Biografi Rabi’ah Al Adawiyah Seorang Sufi Wanita dari Biografi Web
Rabi’ah adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah, yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu. Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
Rabi’ah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk sya’ir-sya’ir Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu, Sya’ir-sya’ir sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulis biografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan karyanya Mir’at az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang Besar), Yafi’I asy-Syafi’i (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi Hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), dan Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memoar Para Wali).
Dari sekian banyak penulis biografi Rabi’ah, Tadzkirat al-Awliya’ karya Fariduddin Aththar tampaknya dianggap sebagai buku biografi yang paling mendekati kehidupan Rabi’ah, terutama ketika awal-awal Rabi’ah akan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin itu (tapi ada yang menyebutkan bahwa keluarga Rabi’ah sebenarnya termasuk keturunan bangsawan). Riwayat Aththar, yang dikutip Margaret Smith dalam bukunya Rabi’a the Mystic & Her Fellow-Saints in Islam (sebuah disertasi, terbitan Cambridge University Press, London, 1928), antara lain banyak mengungkap sisi-sisi kehidupan Rabi’ah sejak kecil hingga dewasanya.
Diceritakan, sewaktu bayi Rabi’ah lahir malam hari, di rumahnya sama sekali tidak ada minyak sebagai bahan untuk penerangan, termasuk kain pembungkus untuk bayi Rabi’ah. Karena tak ada alat penerangan, ibunya lalu meminta sang suami, Ismail, untuk mencari minyak di rumah tetangga. Namun, karena suaminya terlanjur berjanji untuk tidak meminta bantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), Ismail pun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui putri keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan janggutku.”
Aththar juga menceritakan mengenai nasib malang yang menimpa keluarga Rabi’ah. Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu sendirian.
Suatu hari, ketika sedang berejalan-jalan di kota Basrah, ia berjumpa dengan seorang laki-laki yang memiliki niat buruk. Laki-laki itu lalu menarik Rabi’ah dan menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham kepada seorang laki-laki. Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Suatu ketika, ada seorang laki-laki asing yang datang dan melihat Rabi’ah tanpa mengenakan cadar. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan kemudian jatuh terpeleset. Mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata: “Ya Allah, aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridla-Mu. Aku ingin sekali mengetahui apakah Engkau Ridla terhadapku atau tidak.” Setelah itu, ia mendengar suara yang mengatakan, “Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari Perhitungan nanti derajatmu akan sama dengan orang-orang yang terdekat dengan Allah di dalam surga.”
Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Konon, dalam menjalankan ibadah itu, ia sanggup berdiri di atas kakinya hingga siang hari.
Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah. Dalam shalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak padaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadah kepada-Mu, ya Allah. Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku.” Tatkala Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang Muslimah suci.
Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
Dalam pengembaraannya Rabi’ah berkeinginan sekali untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat juga dengan ditemani seekor keledai sebagai pengangkut barang-barangnya. Sayangnya, belum lagi perjalanan ke Mekkah sampai, keledai itu tiba-tiba mati di tengah jalan. Ia kemudian berjumpa dengan serombongan kafilah dan mereka menawarkan kepada Rabi’ah untuk membawakan barang-barang miliknya. Namun, tawaran itu ditolaknya baik-baik dengan alasan tak ingin meminta bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percaya pada bantuan Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.
Sepanjang sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) yang diperkenalkan Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.
Di kalangan para sahabat sufi-nya itu, Rabi’ah banyak sekali berdiskusi dan berbincang tentang Kebenaran, baik siang maupun malam. Salah seorang sahabat Rabi’ah, Hasan al-Bashri, misalnya menceritakan: “Aku lewati malam dan siang hari bersama-sama dengan Rabi’ah, berdiskusi tentang Jalan dan Kebenaran, dan tak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku adalah seorang laki-laki dan begitu juga Rabi’ah, tak pernah ada dalam pikirannya bahwa ia seorang perempuan, dan akhirnya aku menengok dalam diriku sendiri, baru kusadari bahwa diriku tak memiliki apa-apa, yaitu secara spiritual aku tidak berharga, Rabi’ah-lah yang sesungguhnya sejati.
Dalam kisah lain, diceritakan bahwa pada suatu hari Rabi’ah melewati lorong rumah Hasan al-Bashri. Hasan melihatnya melalui jendela dan menangis, hingga air matanya jatuh menetes mengenai jubah Rabi’ah. Ia menengadah ke atas, dan berpikir bahwa hari tidaklah hujan, dan ketika ia menyadari bahwa itu air mata sahabatnya, lalu dihampirinya sahabat yang sedang menangis tersebut seraya berkata, “Wahai guruku, air itu hanyalah air mata kesombongan diri saja dan bukan akibat dari melihat ke dalam hatimu, di mana dalam hatimu air itu akan membentuk sungai yang di dalamnya tidak akan engkau dapati lagi hatimu, kecuali ia telah bersama dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.” Setelah mendengar kata-kata Rabi’ah itu, Hasan tampak hanya bisa berdiam diri.
Di kalangan para sahabatnya, kehidupan Rabi’ah dirasakan banyak memberi manfaat. Hal ini dikarenakan Rabi’ah banyak sekali memperhatikan kehidupan mereka. Perhatian Rabi’ah yang cukup besar kepada para sahabatnya itu, misalnya saja dibuktikan dengan kisah sebagai berikut: Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang meminta agar Rabi’ah mendoakan untuk dirinya. Tapi permohonan itu dibalas oleh Rabi’ah dengan rasa rendah hati, “Wahai, siapakah diriku ini? Turutlah perintah Allah dan berdoalah kepada-Nya, sebab Dia akan menjawab semua doa bila engkau memohonnya.”
Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah
Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudah memiliki karakter yang tidak begitu banyak memperhatikan kehidupan duniawi. Hidupnya sederhana dan sangat besar hati-hatinya terhadap makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan saking zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap bantuan yang datang dari para sahabatnya, tetapi sebaliknya Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk melayani Tuhannya. Selepas dirinya dari perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri di sebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempat kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah.
Tampaknya, keinginan untuk hidup zuhud dari kehidupan duniawi ini benar-benar ia jalankan secara konsisten. Pernah misalnya Al-Jahiz, seorang sufi generasi tua, menceritakan bahwa beberapa dari sahabatnya mengatakan kepada Rabi’ah, “Andaikan kita mengatakan kepada salah seorang keluargamu, pasti mereka akan memberimu seorang budak, yang akan melayani kebutuhanmu di rumah ini.” Tetapi ia menjawab, “Sungguh, aku sangat malu meminta kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia ini, bagaimana aku harus meminta kepada yang bukan memiliki dunia ini?” Tiba-tiba terdengar suara mengatakan:
“Jika engkau menginginkan dunia ini, maka akan Aku berikan semua dan Aku berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dari dalam kalbumu, sebab Aku tak mungkin berada di dalam kalbu yang memiliki dunia ini. Wahai Rabi’ah, Aku mempunyai Kehendak dan begitu juga denganmu. Aku tidak mungkin menggabungkan dua kehendak itu di dalam satu kalbu.”
Rabi’ah kemudian mengatakan, “Ketika mendengar peringatan itu, kutanggalkan hati ini dari dunia dan kuputuskan harapan duniawiku selama tiga puluh tahun. Aku salat seakan-akan ini terkahir kalinya, dan pada siang hari aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku takut mereka akan menarikku dari diri-Nya, maka akau katakana, “Ya Tuhan, sibukkanlah hati ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau biarkan mereka menarikku dari-Mu.”
Sebagai seorang zahid, Rabi’ah senantiasa bermunajat kepada Allah agar dihindarkan dari ketergantungannya kepada manusia. Namun, perjalanan zuhud yang dialami Rabi’ah tampaknya tidak mudah begitu saja dilalui. Di depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus ia hadapi. Kenyataan-kenyataan itu memang wajar, karena sebagai manusia, tak mungkin dirinya hanya bergantung kepada Allah semata. Meskipun demikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yang datang selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan (faqr), namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah kepada Rabi’ah.
Dalam satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang terbaring sakit di atas tikar tua dan lusuh, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, engkau salah besar. Bukankah Yang memberi mereka dan aku makan sama?” Malik menjawab, “Ya, memang sama.” Rabi’ah mengatakan, “Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya dan akankah Dia ingat kepada hamba-Nya yang kaya dikarenakan kekayaannya?” Malik menyahut, “Tidak.” Rabi’ah lalu kembali mengatakan, “Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerimanya.”
Rabi’ah dan menjelang hari kematiannya
Dikisahkan, Rabi’ah telah menjalani masa hidup selama kurang lebih 90 tahun. Dan selama itu, ia hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta dirinya, hingga Malaikat Izrail menjemputnya. Tentu saja, Rabi’ah telah menjalani pula masa-masa di mana Allah selalu berada dekat dengannya. Para ulama yang mengenal dekat dengan Rabi’ah mengatakan, kehadiran Rabi’ah di dunia hingga kembalinya ke alam akhirat, tak pernah terbersit sedikit pun adanya keinginan lain kecuali hanya ta’zhim (mengagungkan) kepada Allah. Ia juga bahkan sedikit sekali meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.
Berbagai kisah menjelang kematian Rabi’ah menyebutkan, di antaranya pada masa menjelang kematian Rabi’ah, banyak sekali orang alim duduk mengelilinginya. Rabi’ah lalu meminta kepada mereka: ‘Bangkit dan keluarlah! Berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha Agung!’ Maka semua orang pun bangkit dan keluar, dan pada saat mereka menutup pintu, mereka mendengar suara Rabi’ah mengucapkan kalimat syahadat, setelah itu terdengar sebuah suara: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, berpuas-puaslah dengan-Nya. Maka masuklah bersama golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89: 27-30).
Setelah itu tidak terdengar lagi suara apa pun. Pada saat mereka kembali masuk ke kamar Rabi’ah, tampak perempuan tua renta itu telah meninggalkan alam fana. Para dokter yang berdiri di hadapannya lalu menyuruh agar jasad Rabi’ah segera dimandikan, dikafani, disalatkan, dan kemudian dibaringkan di tempat yang abadi.
Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnya hampir tak percaya, bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkan alam fana dan menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah, karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuh penderitaan, namun tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpa dengan Tuhannya.

Tarbiah Akademik : Tips to achieve 3.0 above

Assalamualaikum wbt

Source : Whatsapp group
Date : 13/8/2016
Time : 4:58 pm

Moga Allah Redha.

Bismillah,

Ada junior tanya saya macam mana saya boleh dapat 4flat 🤔❓❓

Mcm mana saya boleh maintain 📈tiap kali test tak pernah fail ?🎊🎊

Macam mana nak score every subjek?💯

Ya, kejayaan 🎓memang tak akan dtg mcm tu saja..mesti kena ada effort🏋🏼 baru ada hasil.🏅

Eleh dia budak gifted..🎁tak belajar pun still boleh dpt 4flat.🌞

Nope,🚫saya tak percaya perkataan☝🏻 gifted tu wujud 💥when we talk about success.⛅

Tanyalah org yg berjaya dlm dunia ni? 👀Masing2 mesti ada jerih payah 😖sebelum menempa sesuatu kejayaan.🏆

Kamu tahu selain daripada pengurusan masa yg efektif🕚,masa belajar yg berkualiti📝 kadang2 usaha kita yg nampak remeh 💁🏻itu yg menjadikan kejayaan kita bernilai.💶💷💵💴

Phm tak maksud saya?🤔

Saya suka menilai🔍 prestasi diri sendiri📊.Sejak dari bangku sekolah📚 lagi saya dah amalkan untuk rekod 🗂setiap pencapaian saya every sem..📌

tak kiralah test ke exam saya rekodkan 🗂semuanya sbb saya nak buat analisa prestasi akademik saya.📈📉📊

Dalam pada itu,saya juga suka menilai 🕵🏻kelebihan seseorang itu dan kemudiannya saya akan mengimplementasikan🚶🏻  🏃🏼 kepada diri saya.

Sbg contoh,semasa di asasi 🏫saya ada seorang classmate lelaki ni👦🏻..dia anak org kaya 👨‍👩‍👧💎💰tapi ya Allah ya Rabbi sangat annoying 🙄dan suka mencarut😈,tahu nak menang je.😑😑

Rasa mcm nak tape je mulut dia tu🤐.Pendek kata sume menyampah dgn dia .😒😒😒

TAPI😐

Saya pelik macam mana 🤔dia ni boleh jadi 'sifu bio'📚.bila result test 1 📄keluar dia one of the highest💯..jadi sepanjang sem satu dan sem dua saya dok pikir💭 apa rahsia dia..hmmm❓❓

Rupanya😯 ad satu benda yg dia buat saya rasa..'wow  gua salute 👮🏻ah kat mamat ni'😱

Dia minat bio 🐠🐋dan cita2 dia nak jadi doktor💉,apa yg dia buat yg saya fikir bagus👍🏻 ialah dia ni suka bawa buku teks 📔bio( yg ya Allah 😅kalau boleh tebal lah lagi 😀) tiap kali lecture dan tuto bio🏦📝.dan yg paling best dia dah buat since di puncak alam lagi.⛰😱😱

Lelaki kan 💁🏻mana nak naik bas🚌 balik kolej 🏢(tak gentle katanya🙄) so budak laki class 👬👬saya mmg sume naik turun tangga kejayaan palam tu.🌈

Bayangkan cam mana dia bawa buku 📔setebal alam tu naik turun tangga?? 😵🤒

Dan sehingga ke dengkil 🏫dia still amalkan bawa buku teks 📔tiap kali ke lecture dan tutor.🏦🖋🖇

Kamu tahu? 😗Result📄 dia selalu one of the highest🏅..👍🏻test/kuiz bio dia selalu tip top.👌🏻

Jadi lepas je test 1 saya pun cuba implemenkan 🤓bawa buku teks bio 📔tiap kali lecture dan tutor bio🏦🖋.usung lah buku bio tu ke hulur ke hilir 🏃🏼ke anjung,🍝🍵ke library📚 ke surau.🕋. 

Bagus juga,🤔 sbb ada masa lapang ja saya akan buka buku tu dan baca.📖🔎🔎Buku bio kan banyk gambar 📸📸so best sikit la nak hadap.😅

Ya Allah kamu tahu? 😮Bila result📄 test2 keluar saya dapat beat💥 score dia!        😱😱😱😱😱😱😱😱

Ya rabbi time tu rasa mcm di awangan 👼🏻ja..sbb selama ni score bio 📄📈dia mesti lebih tinggi✌🏻 dari saya.😩😩

Saya juga ada sorng classmate perempuan 👧🏼ni..dia sangat pandai math➗➕➖..🤓sama jugaklah markah dia always highest💯 dlm math .kuiz & test selalu siap awal .🆙🆙

Jadi saya pun mulalah selidik🕵🏻 apa rahsia disebalik kejayaan dia🤔🤔..dia buat sume tuto saya pun sume tutor 📝tak pernah tak siap🤔🤔.dia selalu refer lec 👨🏻👩🏻saya juga selalu refer lec.🤔🤔

Lalu apa yg membuatkan markah 📑💯dia lebih hebat dari saya❓Jeng jeng..💡💡💡

Rupanya,😮dia ni selalu datang awal 🏃🏼🌥ke kelas🏦.kamu tahu kelas math ➕➖➗kami selalu buat pagi🌄 tau pukul 8.30pg di dk3.🏦

TAPI😧

Ya rabbi,bayangkan 💭dia pukul 7.30 pg🌄dah ada dlm lecture hall🏦 tu tgh tidur😴.Bukan dia tak balik rumah🏡 and bermalam kat lecture hall😂,tapi disebabkan dia ni sgt lah awal dtg.✨ smpai sempat tidur dlm dk tu 💤💤

Jadi saya pun cuba nak beat dia,🔥💥lepas solat subuh 🌆saya baca mathurat 📖baca quran 4 pg kemudian saya siap2 👚🎒👓👟ke kelas.pkol 7 saya dah keluar rumah.🏃🏼💨💨   🏡

Tapi bila saya sampai je👀 dia dah tertidur 😴😴dlm lecture hall.😱😱haduh minah ni tak mandi 🚿🚽ke pegi kelas? 😅😅

Sampai satu tahap 😤pkol 6.45 pagi 🌃saya dah siap2 🎒👚👟ke kuliah jadi pkul 7 🌄saya dah sampai dk3🏦.agak2 kali ni dia ada tak???👀

Dia TAK DATANG lagi weh! 😀😀Yaayy misi berjaya juga.😭😭✨✨

Jadi sesampainya di dewan,🏦kalau tak sempat mathurat saya baca dulu..📖 sarapan roti mighty white 🍞dgn air kotak soya 🍶kemudiannya terus sambung buat tutor ✍🏻and review topic 📗📘yg akan belajar harini.📍

Jadi apa keputusan test 2 saya?? 😗Dapat tak saya beat dia??🔥🔥😈

Alhamdulillah,bila result math test 2 keluar saya dapat beat dia 😱😱🙋🏻hahahhaha 😇😈dan kami adalah one of the highest 👏🏻💯💯juga math masa tu.. ya Allah gembira dia lain dari yg lain.😌😌🤓

Kadang2 kita rasa perkara tu remeh..💁🏻alah setakat bawa buku teks bio📔,dtg kuliah awal🌄..apa lah sangat.😏😏

Tapi kamu perlu tahu,☝🏻boleh jadi usaha 🏋🏼sekecil ini lah yg Allah nilai ⚖⚖kemudiannya Allah bagi kejayaan 🏅berdasarkan usaha kita tu.😊😊

Jgn ❌pernah pandang remeh akan sesuatu usaha🏋🏼🏋🏼.begitu juga lah dalam kita mendekatkan diri pada DIA😳😳😳..mungkin dgn kita berzikir📿 'La ilaha ilallah' setiap hari 🌄🌅🌃akan jdi kunci ke syurga?✨✨

Mungkin 🤔dgn kita solat dhuha 2 rakaat 🌄setiap hari 🌄🌅🌃akan memberatkan ⚖amal kita di padang mahsyar nanti?😟

Mungkin juga 🤔dgn baca satu juzuk1⃣ satu setiap hari boleh melapangkan 🌸🌷kubur⚰ kita nanti?😔😔

Atau 🤔Allah bagi ganjaran 🏆🏆pahala melimpah ruah sewaktu kita tahajjud 2 rakaat pada waktu malam?? 🌠🌃🌌

Bagaimana pula 🤔kalau Allah ampunkan dosa✨ kita sebaik sahaja kita baca zikir mathurat pagi dan petang?🌗 😞😞😞

Do not underestimate ☝🏻the mercy of Allah.❤❤Allah sangat pemurah penyayang kepada hambaNya.😊😊

Ya,kita pendosa..😭😭tapi bila kita bertaubat 😞😞kita ditinggikan darjatnya di sisi Allah (quran 3:139)✨✨

‎وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Sentiasa bersangka baik pada Allah ya!😊

Oh dan jgn take for granted pula😠..jgn pkir lepas ni bawak buku bio 📔je gi kuliah dah konfem dpt A bio😀💯💯,dtg awal ke kuliah da boleh jwb sume soalan 😀math💯💯.💆🏻😑😑

jadi cerdik sikit ya🤓

Begitu juga dgn amal ibadah kita..😊jgn pkir dgn zikir je dah konfem masuk syurga🤔🤔..so tak payah solat 5 waktu tak payah berdakwah 😀😀..Gua flying kick juga nnti💥💥💥

yg wajib ttp buat tau.‼

Yang paling penting niat ikhlas kerana Allah dan istiqamah😊😊. In Sha Allah mudah-mudahan kejayaan milik kita.🎖🎖

#3rdEdition
#TarbiahAkademik1.0
#Extraordinary4flat
#dengkilPerform

Story of a letter to principal

A school in Kolkata India sent this letter to the parents few months before board exams...

Dear Parents,

The exams of children are to start soon. I know you are all really anxious for your child to do well.

But, please do remember, amongst the students, who will give the exams, is an artist, who doesn't need to understand Maths.

There's an entrepreneur, who doesn't care about History or English literature.

There's a musician, whose Chemistry marks won't matter.

There's a sportsperson, whose physical fitness is more important than Physics.

If your child does get top marks then great. But, if he or she doesn't please don't take away their self- confidence / dignity from them.

Tell them it's ok, it's just an exam. They are cut out for much bigger things in life.

Tell them, no matter what they score, you love them and will not judge them.

Please do this and if you do, watch your children conquer the world. One exam or a 90 percent marks won't take away their dreams and talent.

And please do not think that doctors and engineers are the only happy people in the world.

With Warm Regards,
The Principal